oleh

Kelompok Radikal Ikut Menunggangi Aksi Anarkisme

PENASULSEL.COM,MAKASSAR– Poros Pemuda Indonesia (PPI) Sulsel kembali menggelar dialog kebangsaan yang bertemakan momentum hari kesaktian pancasila, menjaga harmonisasi antar sesama anak bangsa ,demi terwujudnya indonesia damai, Di Makassar, Senin 7/10/19.

Dialog rutin yang diselenggarakan disalah satu warung kopi di Makassar itu dihadiri kurang lebih seratusan kelompok pemuda dan mahasiswa se sulawesi selatan.

Pengamat Politik segaligus Kebangsaan, Arqam Azikin selaku narasumber menilai kondisi aksi mahasiswa yang terjadi belakangan ini, utamanya di Kota Makassar terdapa kejadian tak terduga dan diluar konteks gerakan mahasiswa.

“saya melihat ada aksi di susupi dengan dua gerakan yang anti pancasila diantaranya kelompok radikal kiri dan kelompok radikal Kanan,”kata Pengamat Politik Dan kebangsaan Arqam Azikin.

Arqam juga menilai jika minimnya sosialisasi pancasila dan pemahaman pancasila mengakibagkan gerakan anti pancasila lebih leluasa masuk kampus dan mendoktrin mahasiswa. Hal ini juga terlihat dari sejumlah laporan yang masuk, termasuk kelompok ANARKO yang sudah rutin melakukan pengkaderan didalam kampus.

“ini lah yang menyusup kedalam gerakan mahasiswa dan berbuat kekacauan secara nasional termasuk dimakassar dan sudah ada bibitnya,ini yang harus dicermati. Dipihak yang sama dengan idioligi yang berbeda juga terdapat ormas lain yang telah eksis 30 tahun namun telah dibubarkan Pemerintah melalui Perpu 02 tahun 2017 juga tampil terdepan menunggangi aksi anarkisme tersebut,”jelas Arqam.

Sementara itu, akademisi Unhas Sakka Pati jmengingatkan aktivis di Kota Makassar agar tidak terjebak dalam politik identitas yang secara tidak langsung.” ,ini sangat berbahaya bisa merusak dan mencederai gerakan mahasiswa saat ini,” ucap Sakka Pati.

Hal senada disampaikan, Akademisi UIN, Abdul Wahid. Menurutnya terdapat beberapa spanduk kasar yang terapajang dan sifatnya menghina aparat ini memancing perpecahan antar sesama anak bangsa. Ini bertujuan membenturkan mahasiswa dan polisi.

“Kuat dugaan saya spanduk ini bukan buatan mahasiswa tapi kelompok yang disinyalir memanfaatkan situasi panas dimakassar,”singkatnya.

Pakar Hukum Ahmad Nur menjelaskan juga Ada orang yang teriak nkri harga mati tapi juga menginginkan indonesia Mati ,sulit membedakan antara pejuang dan penghianat. Ini lah tugas besar kepolisian untuk membongkar kedok siapa dibalik kelompok ini.

Kabid Humas Polda Sulsel Dicky Sondani membenarkan adanya gerakan radikalisme kiri dan radikalisme kanan dibalik anarkisme mahasiswa di makassar, dengan pakaian preman mereka menyusup ketengah aksi bahkan juga aksi sendiri tapi memakai penutup muka,ini lah yang berbuat onar dimana mana dan polisi sudah punya bukti video dan data valid lainya keterlibatan ANARKO dalam keributan dimakassar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed